Sudut Pandang

PERTANIAN PERCONTOHAN DUNIA

OLEH : ENTANG SASTRAATMADJA

Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian, Kasdi Subagyono (2022) menekankan pentingnya keterbukaan akses pangan dunia serta inovasi agripreneurship melalui pertanian digital. Demikian disampaikan Kasdi saat memimpin pertemuan deputi pertanian G20 yang digelar secara virtual di Novotel Bogor, Jawa Barat.

Tujuan dari kegiatan ini salah satunya adalah keseimbangan antara produksi dengan perdagangan untuk memenuhi pangan untuk semua. Tentu basis pemikiran kita adalah mengembalikan posisi pertanian dimasa pandemi ini. Alhamdulillah pertanian dibawah Bapak Menteri (Syahrul Yasin Limpo) tumbuh mengembirakan, dimana produksi kita naik dan kesejahteraan petani meningkat.

Indonesia saat ini juga fokus pada perkembangan inovasi agri preneurship untuk meningkatkan taraf hdup petani agar lebih sejahtera. Terutama para petani di desa yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan pertanian Indonesia. Itulah topik substansi yang dibahas kali ini. Juga memberi gambaran nyata bahwa pertanian kita selama pandemi mendapat apresiasi dari FAO sebagai pertanian percontohan dunia.

Bagi kita, apresiasi FAO yang menjadikan Indonesia sebagai pertanian percontohan dunia, mesti nya diterima dengan penuh kehormatan dan tanggungjawab. Esensi utama nya adalah bagaimana kesungguhan kita untuk terus melestarikan citra yang telah diapresiasi FAO tersebut. Pengalaman buruk Swasembada Beras tahun 1984 lalu hendak nya tidak terulang. Betapa malu nya kita beberapa tahun setelah Proklamasi Swa Sembada Beras, lagi-lagi kita melakukan impor beras.

Apresiasi FAO saat ini, tentu di dasarkan kepada fakta-fakta yang terjadi di lapangan selama masa pandemi Covid 19 berlangsung. Semua warga bangsa tahu persis bagaimana keperkasaan sektor pertanian dalam menghadapi sergapan Covid 19. Di saat sektor-sektor strategis mengalami pertumbuhan negatif, sektor pertanian tetap mengalami pertumbuhan positip. Pertanian tetap kokoh dan mampu “menolong” sektor lain untuk memposisikan diri sebagai tulang punggung perekonomian bangsa.

Apa yang ditetapkan FAO bagi negara kita sebagai percontohan pertanian dunia, jelas tidak selesai hanya dengan sebuah apresiasi. Namun yang lebih utama lagi adalah sampai sejauh mana kita mampu bertahan dan melestarikan apresiasi yang telah diberikan FAO kepada kita. Atas hal yang demikian, kita tetap harus mampu membangun ketersediaan pangan yang tangguh. Produktivitas perlu ditingkatkan dengan berbagai inovasi yang dihasilkan oleh para peneliti dan pemulia tanaman.

Dengan kondisi lahan sawah produktif yang semakin sulit melawan gempuran alih fungsi lahan, memaksa kepada kita untuk semakin serius dalam meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian. Pencarian varietas unggul yang sangat genjah dan mampu memacu peningkatan produksi per hektar, penting untuk terus ditempuh. Indek Pertanaman terus perlu ditingkatkan. Pengembangan IP 400 menjadi program unggulan yang perlu ditingkatkan penerapan nya.

Pengembangan padi hibrida yang berdasar pengalaman mampu meningkatkan produksi sekitar 8 ton per hektar sudah saat nya dijadikan alternatif guna memperkokoh ketersediaan beras nasional. Hal ini penting, karena makna ketersediaan pangan sebagaimana yang disebutkan dalam Undang Undang No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan terdiri dari tiga hal, yakni pertama diperoleh dari hasil produksi dalam negeri, kedua dari Cadangan Pemerintah dan ketiga dari impor, sekira nya poin pertama dan kedua tidak mampu dipenuhi.

Upaya menguatkan ketersediaan pangan di negeri ini, tampak nya cukup serius ditempuh oleh Pemerintahan Jokowi. Pengembangan “food estate” yang dilakukan di berbagai daerah adalah sebuah bukti kesungguhan Pemerintah untuk menguatkan ketersediaan pangan. Yang perlu dijadikan percik permenungan adalah sampai sejauh mana “political will” Pemerintah dalam pengembangan food estate ini bakal ditopang oleh “political action” yang mendukung nya ? Jawaban inilah yang paling kita butuhkan. Dan jawaban nya afalah kerja nyata, bukan lagi hanya sebuah wacana belaka.

Sudah sekitar 2 tahun lebih pengembangan food estate ditempuh Pemerintah. Hasil yang dicapai terlihat kurang menggembirakan. Produksi yang dihasilkan per hektar, masih jauh dibawah yang ditargetkan. Hal ini wajar terjadi, karena mengembangkan sawah baru tidaklah segampang kita membolak-balik telapak tangan. Masalah nya akan semakin menjelimet manakala perencanaan yang dilakukan tidak sesuai dengan kaedah-kaedah perencanaan yang seharus nya.

Perencanaan yang baik dan berkualitas, pasti harus ditopang oleh data yang akurat. Pola pendekatan nya pun penting dikemas secara teknokratik, partisipatif, top down-bottom up dan politis. Semua pendekatan ini perlu dikemas sedemikian rupa, sehingga perencanaan yang dihasilkan akan benar-benar utuh, holistik dan komprehensif. Food Estate, kelihatan nya belum menempatkan pendekatan perencanaan seperti yang digambarkan diatas. Bayang-bayang sistem target tampak masih mewarnai kebijakan yang ada.

Food Estate, semesti nya dikemas dalam bentuk gerakan dan tidak dirancang dalam bentuk keproyekan. Food Estate adalah kebijakan dan program yang disiapkan untuk masa depan, dalam rangka memperkuat posisi ketersediaan pangan yang kokoh. Kalau hal ini dapat diwujudkan, boleh jadi apresiasi FAO yang menjadikan pertanian Indonesia sebagai percontohan dunia, bukanlah apresiasi yang sifat nya sesaat, namun kita pun berkewajiban untuk menjaga dan memelihara nya sepanjang masa.

Apresiasi FAO semacam ini, pada inti nya jangan menjadikan kita pongah, namun seharus nya kita dituntut untuk mawas diri dan selalu bercitra akan masa depan. Tidak mudah untuk memperoleh apresiasi dari FAO. Badan Pangan Dunia, bukanlah lembaga yang dapat disogok atau dibeli agar Indonesia dapat menjadi percontohan pertanian dunia. FAO tentu memiliki penilaian sendiri, mengapa apresiasi itu diberikan kepada negara kita. Itu sebab nya, wajar bila kita menjaga penghargaan yang telah diberikan itu.

Memelihara sebuah suasana seperti nya lebih susah ketimbang kita mendapatkan suasana tersebut. Begitu pun dengan apresiasi yang diberikan FAO ini. Kita sendiri tidak pernah tahu FAO akan memberi apresiasi. Yang kita pahami, FAO sempat memberi “warning” kepada para anggota FAO sejagat raya, agar berhati-hati akan ada nya krisis pangan sebagai dampak dari pandemi Copid 19. Peringatan ini benar-benar telah diindahkan oleh bangsa kita, sehingga mampu dilalui dengan baik. Bahkan muncul beberapa terobosan guna memperkuat kondisi ketersediaan pangan nasional.

Menjadi negeri percontohan pertanian dunia betul-betul merupakan penghargaan yang patut disyukuri dengan serius. Upaya menjaga apresiasi ini, kelihatan nya perlu disiapkan dengan apik, sekaligus menjadi kewajiban seluruh komponen bangsa untuk melestarikan penghargaan ini. Sebuah kekeliruan yang cukup fatal, bila hal ini hanya dibebankan kepada jajaran Kementerian Pertanian semata. Yakinlah, kita pasti bisa.

(PENULIS ADALAH KETUA HARIAN DPD HKTI JAWA BARAT).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *