News

Tenganan Ditarget Jadi Desa Zero Waste Cities

Karangasem, Desa Tenganan Pegringsingan, Karangasem, ditarget menjadi desa zero waste cities atas desa yang menerapkan program kawasan bebas sampah. Guna mewujudkan target tersebut, Desa Tenganan akan mendapatkan pendampingan dari Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup Bali dan GAIA (Global Alliance for Incenerator Alternatives).

Direktur Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali, Catur Yudha Hariani berjanji akan mendampingi Desa Tenganan Pegringsingan dalam pengelolaan sampah hingga berhasil. “kami janji tidak akan meninggalkan desa Tenganan sebelum berhasil, kami sudah bekerjasama dengan Griya Luhu untuk membangun bank sampah berbasis digital kemudian kami tidak akan pergi sebelum terbangun TPST3R dan harus jalan dengan baik dan benar. Selain itu kami tidak bisa bekerja sendiri, relawan Ombo dan Kader Bank Sampah AMALA LOKA Tenganan serta masyarakat Tenganan harus terus mendukung” kata Catur saat dikonfirmasi pada Senin (14/2).

Menurut Catur, pada tahap pertama dilakukan kajian sampah di Tenganan didukung oleh Yayasan Wisnu, GEF SGP, Kementerian Lingkungan German. Hasil kajian menunjukan bahwa sampah yang dihasilkan oleh masyarakat selama ini 98% dibakar dan sisanya dibuang ke kebun. Masyarakat juga menyatakan 54% setuju dan 44% sangat setuju jika di desa dilakukan pengelolaan sampah terpadu.

Saat ini di sudut pelataran parkir desa Tenganan Pegringsingan telah terbangun sebuah gedung sederhana berukuran 6 x 18 meter yang difungsikan untuk TPST 3R sementara. Fungsi TPST 3R sementara ini digunakan untuk Bank Sampah dan menampung sampah residu. Tepat 11 Pebruari 2022 gedung ini telah diresmikan oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Karangasem.

Tenganan adalah desa wisata yang sudah mendunia karena terkenal dengan kekayaan adat, budaya, tenun, tari dan hutan yang sangat luas memberikan kehidupan mampan kepada masyarakatnya. Tenganan meskipun disebut desa Bali Aga, tentu tidak terhindar dari kehidupan modern. Penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari disana sudah menjadi kebutuhan. Mulai dari penggunaan tali raffia untuk mengikat tenun, gulungan benang yang menyisakan pipa plastik, ditambah lagi dengan pembungkus makanan yang serba terbungkus plastik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *