Agro

Pengembangan Usaha Madu Trigona Laevicep (kele-kele)
Melalui Perbaikan Vegetasi Dan Teknik Pascapanen

Kegiatan pendampingan kelompok madu Kele-Kele, dalam bentuk pengabdian dilakukan di Kelompok Sarining Trigona Pertiwi Desa Bongkasa Pertiwi Kecamatan Abiansemal Kabupaten Badung, oleh tim dari Universitas Warmadewa yang terdiri dari tiga orang yaitu: Dr. Ir. I Gede Pasek Mangku, MP (sebagi Ketua Tim), Dr. Ir. I Gst. Bagus Udayana M,Si (anggota) dan Prof. Dr. I Made Suwitra, SH., MH (anggota) serta 1 orang mahasiswa.

“Budidaya lebah madu di Bali stinglessbee (lebah tidak menyengat) belum banyak dikembangkan. Jenis lebah madu yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat di Bali adalah jenis Trigona Laevicep karena kualitas madu yang dihasilkan lebih baik, biaya investasi murah dan mudah dipelihara serta tidak menyengat” kata Gede Pasek Mangku yg juga sebagai kordinator tim, di Abiansemal (27/5).

Dosen asal Singaraja ini menambahkan “Permasalahan yang dihadapi oleh kelompok peternak madu Sarining Trigona Pertiwi adalah : 1) kualitas madu yang dihasilkan masih rendah dimana kadar air, warna dan kadar gula masih tidak sesuai dengan standar mutu nasional Indonesia (SNI) dan warna dari madu yang dihasilkan berubah-rubah disebabkan karena sumber pakan beragam dan menimbulkan kesan kualitas madu tidak konsisten, 2) produktivitas madu masih rendah yang disebabkan jumlah koloni masih sedikit dan ketersedian pakan bagi lebah masih terbatas. Disamping itu, 3) hubungan kelembagaan kelompok dengan pihak Bumdes dan pemerintah desa belum diatur secara jelas terhadap pengembangan lebah madu kedepan”.

Madu banyak diminati masyarakat karena mengandung senyawa gizi yang sangat dibutuhkan tubuh. Madu berfungsi sebagai antioksidan seperti: vitamin C, B3, A, E, asam organik, enzym, asam phenolat, dan flavonoid. Selain itu madu juga berfungsi sebagai anti-inflammatori, antimikroba, anticancer, dan antiseptik.

Dengan mengkonsumsi madu secara rutin dapat meningkatkan daya tahan tubuh terutama di saat Pandemi Covid-19. Walaupun harga madu tergolong mahal namun permintaan konsumen terhadap madu kele-kele lebih tinggi dibandingkan dengan produksi madu sehingga peluang usaha budidayanya sangat prosfek untuk dikembangkan.

Kualitas madu sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya : jenis lebah, jenis dan ketersedian pakan, suhu, dan teknik pemanenan madu. Bervariasinya jenis pakan dan teknik pemanenan yang kurang tepat mangakibatkan kualitas madu yang dihasilkan kurang baik dan mutunya tidak konsisten.

Dalam upaya membantu memecahkan permasalahan kelompok maka dilakukan pengabdian oleh tim dari Lembaga Pengabdian Pada Masyarakat (LPM) Universitas Warmadewa. Metode yang digunakan adalah: survey, sosialisasi, observasi, wawancara, penyuluhan, dokumentasi dan evaluasi. Jumlah anggota yang terlibat adalah 22 orang yang merupakan anggota kelompok.

salah satu anggota tim Gst. Bagus Udayana mengatakan “Pada kegiatan ini kelompok diberi penyuluhan tentang budidaya tanaman dan teknik perbanyakan tanaman xanthostemon chrysanthu, teknik penanganan pascapanen madu serta penguatan kelembagaan kelompok. Disamping itu, dilakukan praktek perbanyakan bibit tanaman bunga xanthostemon chrysanthu sebagai salah satu sumber pakan bagi lebah dan praktek penanganan pasca panen madu”.

“Melalui pengabdian ini maka tingkat pengetahuan dan keterampilan kelompok dalam budidaya tanaman xanthostemon chrysanthu dan teknik pascapanen madu yang baik dan benar juga mengalami peningkatan dibadingkan sebelumnya. Kelompok juga secara bertahap akan meningkatkan jumlah tanaman (vegetasi) dan jumlah koloni lebah untuk meningkatkan produksi madu, serta melakukan perbaikan teknik pasca panen sehingga kualitas madu yang dihasilkan akan lebih baik dan konsisten” tambah dosen yang akarab disapa GBU ini.

Prof. Dr. I Made Suitra juga menambahkan “Disamping budidaya pelatihan penguatan kelembagaan, dari aspek hukum juga diberikan sehingga kedepan dapat mencegah konflik internal dan posisi kelompok juga akan lebih kuat dan jelas”

Kelompok Sarining Trigona Pertiwi terdiri dari 22 orang anggota dengan tingkat kepemilikan koloni berkisar 10-200 koloni/anggota dan total koloni yang dimiliki oleh kelompok berkisar 467 koloni lebah Kele-Kele.

Dengan adanya kegiatan pendampingan melalui pengabdian kepada masyarakat yang sudah diberikan maka diharapkan kegiatan usaha budidaya lebah madu kele-kele di kelompok Sarining Trigona Pertiwi dapat lebih berkembang dan meningkat sehingga dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan serta untuk menjaga ekosistem lingkungan dan alam di Desa Bongkasa Pertiwi tetap lestari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *