News

Diet Kantong Plastik, Gerakan Bijak Menggunakan Kantong Plastik di Denpasar.

Denpasar. Diet kantong plastik menjadi sebuah Gerakan bijak dalam menggunakan dan mengurangi penggunaan kantong plastic, salah satunya di Kota Denpasar. Sasaran Gerakan ini salah satunya adalah pasar tradisional. Upaya diet kantong plastik juga dilakukan oleh pengelola Pasar Sindhu, Sanur, Denpasar dengan melibatkan Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH Bali), Gerakan Diet Kantong Plastik (GIDKP) dan didukung oleh Canada Fund serta DKLH Propinsi Bali.

Dalam dialog ujicoba Pasar Bebas Plastik Pasar Sindu pada Minggu, 9 Januari 2022, para pedagang mengakui sulit jika tidak menggunakan pembungkus plastik. Apalagi masukan datang dari pedagang, komunitas peduli sampah, lsm, akademi dan pemerintah. Yang menjadi diskusi seru adalah pengganti pembungkus canang. “saya belum bisa mengganti kresek, karena pembeli maunya canang tidak boleh layu, tidak berceceran dan nanti sampai rumah mudah dimasukan kulkas”, ujar Putu Ari pedagang canang di Pasar Sindu saat ditemui pada Minggu (9/01).

Pasar tradisional bebas plastik adalah pekerjaan yang sangat menantang, pasalnya sampai saat ini belum ditemukan pasar bebas plastik di kota Denpasar atau bahkan di Bali. Padahal peraturan pemerintah tentang pengurangan kantong plastik sekali pakai sudah 3 tahun diterbitkan sejak tahun 2018. Berdasarkan data PPLH Bali penggunaan kresek di Pasar Sindhu rata-rata perhari 2.969 lembar.

Kepala Pasar Sindhu, Gede Sudiana mengungkapkan bahwa penggunaan besek dapat menjadi salah satu alternatif pengganti kantong plastik. “Besek itu satu paket dengan tutupnya, jangan beseknya dikurangi karena tutupnya dijual lagi. Jadikan kelebihan besek itu sebagai Yadnya” jelasnya

Pendapat yang sama disampaikan salah satu artis asal Bali Robi-Navicula. Menurutnya tidak jarang kantong plastik sekarang menjadi pembungkus sarana upacara. Setelah digunakan kantong plastik dibuang sembarangan sehingga menjadi sampah. “Yadnya itu suci, tetapi kita tidak sadar menggunakan plastik lalu meninggalkannya dan menjadikan pura leteh/kotor. Jadi kita kehilangan makna suci itu sendiri” papar Robi.

Direktur PPLH Bali, Catur Yudha Hariani mengungkaplan sosialisasi dan kampanye kepada pedagang dan pembeli ternyata tidak cukup, yang diperlukan mereka adalah menemukan alternatif pengganti. Pedagang tidak mau kehilangan pembeli demikian juga pembeli tidak mau repot karena harus membawa bahan belanjaannya yang tanpa wadah/pembungkus.

Alternatif pengganti kresek terutama untuk pembungkus canang atau daging harus ditemukan. Perlu kerjasama seluruh stakeholder baik pemerintah, LSM dan swasta agar bisa mensukseskan Perwali 36 dan Pergub Bali 97 dalam pengurangan penggunaan plastik sekali pakai di Pulau Bali ini. “Pasar Sindu sangat terbuka menerima masukan agar bisa menjadi pilot project pasar bebas plastik. Sehingga nantinya bisa dikembangkan di pasar-pasar lain di Bali” jelas perempuan yang juga anggota tim verifikasi sekolah Adiwiyata Provinsi Bali.

Catur menyampaikan PPLH Bali sampai saat ini juga telah mengedukasi pedagang, pembeli, memproduksi poster, video, audio iklan layanan masyarakat dan terus monitoring bekerjasama dengan relawan dari Universitas Warmadewa dan STT Sanur Kaja.

Menurutnya menjadi dilema, karena harga kantong plastik dibandingkan harga daun atau pembungkus lain jauh berbeda. Pembungkus daun atau kantong ramah lingkungan sangat mahal. Sementara pedagang ditekan agar tidak menyiapkan pembungkus kantong plastik. Sedangkan pembeli juga belum banyak yang sadar membawa tas pakai ulang atau kotak-kotak dari rumah.

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah, Limbah B3 dan PPKLH DKLH Propinsi Bali,l I Made Dwi Arbani menegaskan bahwa perubahan memang memerlukan waktu tetapi jika ada komitmen dan pengawasan atau bahkan adat turut mendukung pasti bisa terlaksana pasar bebas plastik. “Pesan Gubernur Bali intinya adalah pengurangan, bukan menghilangkan 100%, habiskan yang masih tersisa dan gunakan terus berulang-ulang agar tidak menciptakan sampah plastik yang baru, tambah pak” tegasnya

Sementara Direktur GIDKP, Tiza Mafira menyampaikan bahwa menjadi sebuah pertanyaan dimana jika orang yang sama pergi ke pasar modern bisa membawa tas sendiri, tetapi mengapa ketika ke pasar tradisional enggan membawa tas sendiri ?. Ternyata jawabannya karena pedagang masih memberikan kresek. “Lalu saya bertanya kepada seorang pedagang di Pasar Tebet, berapa untung jika tidak memberikan kresek ? jawabnya 500 rb perbulan. Saya rasa pengalaman ini bisa menginspirasi pedagang pasar tradisional di Pasar Sindu” ungkap Tiza.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *